TulisanKu

40 Hari Cinta Sangguru

Ankob istilah populer dalam kehidupan santri, yang memiliki arti “anak kobong“, kenapa istilah itu tersetempel dibenak santri-santri, sebab mereka bermukim dan menjalankan kehidupan dimulai dari kobong (kamar) dan berakhir dikobong yang sama, kegiatan itu terjadi terus menerus setiap hari secara berulang sampai mereka menyelesaikan pendidikanya dipondok. Kehidupan santri  diantar kesibukan mempelajari ilmu agama dan rutinitas sosial di antara para santri, seakan sempit dengan rutinitas yang sama, maka banyak kesan negatif yang menceritakan kehidupan dipondok, namun itu hanya sebagian kecil dari santri yang mengalami kekecewaannya kehidupanya dipesantren, sebab keinginan dan hatinya tidak ada disana,

Memulai kehidupan dipesantren yang terbayangkan pertama kali memulai menginjakan kaki dihalaman depan pintu masuk pesantren adalah kesulitan-kesulitan menjadi seorang santri, mulai dari tidur, makan, dan mencuci. Kebiasaan dirumah yang segala sesuatu dikerjakan oleh ibu. membuat prustasi dan ingin aku angkat kembali langkah pertama itu kembali lagi kerumah.

Namun semua itu tak dapat aku lakukan, selain latar belakang keluarga yang ditokohkan oleh warga sekitar sebagi keluarga dengan wawasan keislaman yang lebih baik dari warga sekitar, aku semenjak bersekolah memimpikan menjadi seorang da’i, namun itu semua berubah setelah sekolah di Sekolah menengah Atas, orentasi untuk menjadi santri tersisihkan oleh cita-cita baru, yaitu ahli komputer.

Semua berlalu setelah diskusi panjang antara aku dan Ayah, selepas aku melaksanakan Ujian Nasional, ayah selalu mengajaku berbincang serius diteras luar rumah, ditemani dua gelas kopi panas, yang bunda sediakan setiap kami berbincang. Aku mulai merubah haluan cita-citaku dengan tanpa daya dan upaya menolak saran Ayah untuk menjadikan anaknya seorang yang memiliki pondasi keagamaan lebih baik dari diri Ayah,

”minimal sebagai bekal hidupku kelak”, itulah kata-kata Ayah yang sering terdengar, seperti minum obat tiga kali sehari dirumah.

Pertama kali memulai kehidupan dipesantren hanyalah melayani keperluan pak kiyai. Semenjak Ayah mengantarkan aku kepondok kegiatan ini pun terus berulang setiap hari, entah apa yang Ayah sampaikan dan sepakati dengan pak kiyai, diruangan tengah mereka dengan akrab berbicara panjang lebar, aku yang terus terdiam, mulai dari semenjak meninggalkan halaman rumah juga melihat raut muka bunda yang seakan tidak tega melihat aku terpisah darinya, maklum dari kecil aku tidak pernah sedikitpun jauh dari orang tua, mungkin itu yang membuat bunda cemas dan tidak tega meninggalkan aku dipondok walau sudah lulus SMA.

Dari sampai dipondok ayah dengan pa kiyai terus berbincang, aku tidak tau apa yang mereka bicarakan, yang ku dengar hanya gelak ketawa dari bangku luar yang aku duduki. Setelah mereka selesai berbincang ayah memangilku kedalam, dengan rasa takut aku menghampiri pak kiyai, lalu kucium tanganya dengan perlahan aku mengangkat tangan dan meletakan tangan pak kiyai di bagian depan hidungku, dengan tarikan napas yang memompa jantuk berdetak kencang, entah apa yang terjadi serasa ada sesuatu yang berbeda aku rasakan, kenyamanan terasa dihatiku setelah mencium tangan pak kiyai. Satu kata yang terucap dari pak kiyai pertamakalinya padaku,

“Jangan pernah menghelakan nafasmu dengan seperti itu, seakan kau merasa berputus asa dengan nikmat Tuhanmu”. Begitu jelas kalimat pak kiyai aku dengar pertama kalinya, walau aku tak memahami apa yang dimaksudnya.

Setelah ayah berpamitan dengan pak kiyai, aku pun menuju kamar kecil disebelah rumah pak kiyai, diantar seorang santri seusiaku menuju kekamar itu, dengan sopan santri itu memberitau dan menunjukan beberapa hal yang mungkin aku butuhkan, dengan rasa segan aku meminta petunjuk kemana jika ingin ke kamar madi, dia menunjukan kesebuah tempat diantara bangunan dua lantai yang penuh dengan jemuran dikanan kirinya, ternyata itu adalah kamar mandi bersama para santri. Kehidupan menjadi santri aku mulai dari detik ini, ayah dan ibu telah kembali kerumah, kamar yang kutempati terlihat cukup untuk aku tidur, berbeda dengan santri lain yang harus tidur dalam satu kamar empat orang.

Pagi ini ku mulai menjadi santri dengan  membuatkan kopi untuk pak kiyai, aku pun tidak mengerti kenapa harus aku kemana santri kemari yang mengantarku kekamar, kenapa bukan dia sebagai santri yang sudah lama disini. Aku pun tidak tidak memikirkanya berlarut-larut. Menyiapkan meja dan kursi pak kiyai ketika majelis pengajian akan dimulai, namun aku yang baru memulai dipondok ini tidak mengerti aku harus mulai dari mana dan pak kiyai pun tidak meminta aku untuk menyiapkan apa-apa. Yang kudengar pinta pak kiyai untuk tetap dekat pintu dan tidak boleh kemana-mana.

Kegiatanku yang lain adalah mengamankan sandal  pak kiyai pada saat mengisi acara diluar pesantren, dengan gayaku belum tau apapun dikegiatan ini aku coba berpenampilan layaknya santri hebat, langkah gagah kutampilkan tepat dibelakang pak kiyai, dengan laga bangga aku berjalan diantara orang-orang yang menyambut pak kiyai, tidak sedikit yang bersalaman, semakin tinggi rasa yang ada didada. Kesibukan itu semua terus menerus kulakukan dan masih banyak yang lainya, tanpa tau teman-teman sedang apa mereka bersama kaka-kaka dipondok, semakin lama aku berfikir rasanya malu ketika duduk dipinggiran teras hanya untuk menunggu sandal pak kiyai, harusnya kan posisiku tak disini dengan dalih rasa besar kepalaku. Seiring waktu terus berjalan aku merasakan sesuatu yang salah, hatiku selalu mempertanyakan,

sedang apa aku disini, kenapa aku melakukan semua ini”. gundah dalam hati mengiringi setiap langkah.

Terkadang terlintas rasa malu ketika mengantar pak kiyai, Banyak anak-anak seusiaku selalu memandang sinis disaat mengantar pak kiyai, dengan wajah yang aneh seperti jiji melihatku duduk diantara sandal-sandal kotor dan cenderung berbau, Rasanya hati ingin teriak, ragaku ingin pergi secepat kilat entah kemana menghilang dari tempat ini. Terkadang kaki malas melangkah menuju pinta pak kiyai, terbersit dipikiran pertanyaan,

“Kenapa aku terus..?”. Pikirku dalam hati

“bukannya santri lain. Lanjut ku terus berpikir.

Terkadang terpikir dalam benak ini,”Apakah diri ini terlau bodoh untuk memulai kehidupan dipesanter ini dengan membuka kitab-kitab yang diajarkan kaka santri disini”. Selalu itu yang terdengar dalam teriakan hati.

Hari demi hari selalu terpikir olehku, dengan rasa gundah dan rasa tidak mau melakukan itu semua, tapi rasa itu pun sirnah setelah aku berhadapan dengan pak kiyai, entah apa yang terjadi padaku, rasa itu hilang sementar dan tak terpikir dalam benaku, namun setelah kembali kekamarku pikiran pun kembali pada titik kjenuhan kembali. Sudah tidak terasa ini sudah kulakukan selama dua tahun, tanpa sadar akupun belum satu kitab yang dapat terselesaikan aku pelajari, jangankan mengakirinya memulainya pun aku belum,

Mungkin aku terlalu sibuk dengan kegiatan melayani pak Kiyai”.  Pikirku  dalam hati

Banyak diantara teman-teman seangkatanku telah menyelesaikan beberap kitab yang dipelajari, rasa iri kadang melandaku dengan begitu hebatnya, namun aku pun begitu takut untuk menyalahkan keadaan ini semua, yang aku lakukan hanyalah menyalahkan aku yang terlalu malas untuk memulainya.

Sampai pada suatu saat, datanglah sebuah pertanyaan oleh pak kiyai,

“Kenapa wajahmu muram, apa kamu sakit ? mendengar pertanyaan itu rasa takut pun menghampiri, tapi kuberanikan membuka mulut, setelah lama terdiam.

“Oh..tidak pak kiyai, saya baik-baik saja”. hanya itu kata terluncur dari mulut, tanpa ada keberanian untuk jujur.

 Kulakukan hari-hari dengan penuh rasa keterpaksaan, seperti berdampingan dengan rasa ketakutan yang selalu menghalangi untuk mengatakan tidak, dalam tidurku yang tidak nyenyak selama ini, terganggu dengan mimpi-mimpi tidak aku mengeri, selalu menyertakan pak kiyai dalam cerita mimpi itu,

“mungkin itu”. Pikirku yang selalu merasa bersalah, karena tidak dapat menerima keadaan ini, kucoba mencari jawaban-jawaban dari semua mimpi, tetap saja tidak menemukanya.

Sampai pada suatu malam aku tidak dapat lagi mengelak dengan serbuan pertanyaan-pertanyaan mimpiku, yang menumpuk dalam pikiran, rasanya inginku buang ke samudra lepas, agar tidak membebani pikiran. Harapan besar ini membebani diri, serasa tak kuat menanggunya, tapi seiring waktu aku mencoba menjauh dari keadaan dan ingin meninggalkan semua ini, tetap saja wajahnya selalu muncul dimimpi, serasa nggan mengijinkan lari kencang keluar sana, dan  kaki kaku terasa terikat.

Melihat wajah pak kiyai, dengan begitu bersahaja rasanya membungkam semua yang ada didada, yang kucoba berteman dengan keadaan dengan ketidak pastian jawaban semua pertanyaan yang ada. Sampai datang satu waktu wajah itu menghampiriku, lalu terlontarlah pertanyaan tak terduga padaku,

“saya tau apa yang kamu rasakan”. Ucapnya dengan langkah menuju kehadapanku.

“Jika itu semua menjadikanmu lebih baik, Tandasnya kemudian,

Pak kiyai dengan hati-hati duduk dikursi yang ada didepanku.

“Gerbang yang ada didepanmu itu selalu terbuka”. Lanjut perkataan pa kiyai,

Sambil memegang secangkir kopi hitam yang ku buat tadi, kemudian pak kiyai meminumnya disela-sela berucapannya, kemudian beliau pun melanjutkan ucapanya,

“tapi alangkah sayangnya bila langkahmu terhenti menuntut ilmu agama, karena egomu semata”. Dengan nada yang sedikit rendah pa kiyai melanjutkan kalimatnya.

Suara pak kiyai pun terhenti terdengar ditelinga sedari tadi menyebabkan tubuhku menjadi kaku, kucoba perlahan memahami kata-katanya, namun masi belum menemukan jawabannya, hanya kata

“ya..pak kiyai”. Yang dapat diucapakn melalui mulut ini. lalu terdengar perkataan berikutnya dari pak kiyai,

“Jika kamu tahu ada hadist mengatakan. Kata-kata itu pun terhenti sejenak.

“Nabi Muhamad diutus ke dunia untuk memperbaiki adab, nah coba kamu pahami kalimat itu, baru kamu ajukan sepuluh pertanyaan kepadaku jum’at depan”. Lanjut pa kiyai menjelaskan maksudnya. Aku menjawab dengan nada yang sangat takut,

“ Baik…baik..pak kiyai”. Itu saja yang terucap dariku

Kemudian terdengar pinta pak kiyai sambil berjalan menjauhi dari tempat kami berbincang,

“sekarang kamu bereskan pendopo itu untuk adik-adik santrimu mengaji”. Ucap pak kiyai, kemudian suara itu takterdengar lagi seiring langkah kaki yang mulai tidak dapatku lihat lagi.

Dengan wajah penuh kebingungan, aku segera bergegas melangkah dengan badan membungkuk dan membelakangi arah pintu, kutatap bayangan pak kiyai menghilang dikegelapan rumah, sandal terbuat dari kayu terpakai dikaki, melangkahkan arah kependopo didepan rumah, perlahan sapu ditangan kuarahkan pada debu-debu dilantai, hati terasa kacau, terpikir dibenak apakah hendak ditanyakan, rasa sungkan menghalangi setiap pertanyaan muncul dikepala, setiap berpikir terlintas wajah pak kiyai, kesahajaanya meredam semua gejolak amarah dibena.

Tidak terasa pekerjaan membersihkan pendopo sudah selesai, tenaga yang tersisa mengarahkan tubuh berjalan kearah pembaringan, rasa ngantuk mendera sehingga matapun mulai tertutup, sadar pikirku hari masi pagi, shalat jum’at masih lama dilaksanakan, mulailah lelap tidurku, lagi-lagi mimpi itu menghampiri, membawa penjelajahan yang belum pernah ditemui, untuk mencoba memahami apakah kejadian ini nyata atau hanya mimpi belaka, namun betapah nyatanya kejadian, sehingga terasa bukan mimpi.

Lelap tidur tiba-tiba terjaga setelah terdengar suara memanggil dan terasa kaki digoncangan terus menerus, mata pun terbuka melihat santri muda membangunkan, ia berkata

Kang…kang maaf bangun sholat jum’at mau mulai, tadi pak kiyai meminta saya membangunkan akang”.

Sesegera mungkin aku membersihkan tubuh dan pergi kemesjid, mata terasa mengantuk teramat berat, namun terus mencoba berdiri diantara para santri, kudirikan sholat sunat sampai akhir kemudian tanganku mulai bergerilya berjabattangan pada jamaah disekitar. Suara pak kiyai memulai pengajian sebelum shalat jum’at, tersentak kumendengar isi pengajiannya. Terasa kembali dalam mimpi tadi pagi, mimpi itu sama dengan yang disampaikan oleh pak kiyai dalam pengajian. Kaku badan seperti berada  diruang kosong yang ada hanya suara pak kiyai dan diriku didalam bayangan, membuat taksadar diriku akan shalat jum’at akan dimulai, sukur santri disebelah memberitau, bergegaslah langkahku merapikan barisan dan melaksanakan shalat.

Shalat jum’at berlalu, aku kembali kepondok, rasa penasaran masih menghampiri dipikiran, seakan-akan mimpi kulakukan bersama pak kiyai, tak ingin berlarut-larut dalam kebingungan, aku angkat kopi diatas meja, yang sudah tersimpan semenjak tadi pagi sebelum aku keluar kamar ini. Mulai tangan ini menuliskan  pertanyaan yang dipinta pak kiyai, pikirku kalau dibuat dengan waktu singkat pertanyaannya akan serasa kurang mewakili semua yang ada dihati selama ini, pertanyaan mulai tersusun dan kucoba membaca kembali dengan sebaik-baiknya, agar pertanyaan tidak mengurangi rasa hormatku pada pak kiyai, dengan teliti satu persatu kata pada kalimat itu diperbaiki juga disusun kembali, dengan perasaan takut akhirnya dapat juga kuselesaikan pertanyaan-pertanyaan itu, semoga kata-kata dari pertanyaan tidak menyinggung pak kiyai, kertas pertanyaan mulai  dilipat kemudian kuselipkan diantara buku-buku diatas meja, rasa mengantuk dan lelah mengantarkan badan untuk direbahkan pada pembaringan, sehingga esok tidak mengganggu aktifitas untuk membangunkan para santri muda yang baru datang siang tadi.

Waktu tak terasa berlalu dengan cepatnya, semua rencana yang dipersiapkan, mulai dari sepuluh pertanyaan untuk pak kiyai, telah ada dalam kantong saku, dengan harapan semoga ini semua dapat mengobati gundahku, yang selama dua tahun ini terpendam, semangat membuat langkah mengantarkan kopi menjadi semakin cepat, pintu tua ku dorong perlahan, dengan pasti segelas kopi aku simpan dimeja, disamping kursi tua kusimpuh badan untuk menunggu pak kiyai, tidak terlalu lama langkah itu pun menghampiri, pak kiyai duduk dikursi tua yang terbuat dari kayu jati, diambil kopi hitam itu kemudian meminumnya, uap kopi  terlihat disekitar bibir gelas, tangan pak kiyai memegang dengan penuh kesahajaan, gelas itu dikembalikan ketempat semula, kemudian pak kiyai megucapkan sesuatu padaku,

“Apakah kamu sudah punya pertanyaan yang aku minta kemarin”. Dengan nada pelan jawab terlontar dari mulut ini.

“ Ya pak kiyai”. Kemudaian suasana hening melanda ruangan, setelah jawab pertanyaan kuberikan, pak kiyai menambahkan kalimatnya.

“Tap, sebelum kamu bertanya, boleh saya minta tolong hari ini, rasanya ingin sekali memakan ikan sungai”. Kalimat itu terhenti sejenak,

“kalau kamu tidak keberatan”. lanjutny dengan rasa begitu berat menunggu jawaban-jawaban semua pertanyaanku.

Namun bukan jawaban yang aku dapat melainkan permohonan untuk mengambil ikan disungai, dengan nada berat kujawab.

“Baik pak kiyai”. Terdengar suara pak kiyai meneruskan pembicaraannya.

“tu pun kalau kamu tidak keberatan”. Dengan rasa tak enak juga takut, aku menjawab, “oh…nggak-nggak pak kiyai, saya tidak punya alat pancingnya”.Terlihat tangan pak kiyai menunjuk kearah sisi tembok dibalik pintu, lalu ia berkata,

“itu alat pancingnya, kamu boleh berangkat sekarang juga, agar tidak kesiangan sampai disungai”. Langkah lemas, menuju arah yang ditunjukan pak kiyai, kuambil pancing itu dan segera pamit,

“maaf pak kiyai, saya mohon diri untuk berangkat”. Kemudian pak kiyai menjawab dengan cepat

“silahkan”. Aku berlalu dari hadapan pak kiyai.

Langkahku menuju sungai terasa berat, dengan iringan rasa tidak puas  kenapa bukan jawaban yang diterima, malah diminta memancing kesungai, sedangkan jawaban itu sudah satu minggu kutunggu, Langkah terhenti ditepian sungai, terlihat sudah ada pemancing lain disana, pikiranku yang semberaut teralihkan oleh rasa heran, mengapa sepagi ini sudah ada pemancing lebih cepat dariku, sangat pentingkah memancing baginya sehingga harus sepagi ini ada disungai, tidak lama kemudian terdengar suara memanggilku, arah suara itu terdengar dari pemancing tersebut.

“hei…., kamu mau mancing atau mau meledek orang”. Alangkah kagetnya mendengar ucapan pak tua itu, bagiman dia bisa berkata seperti itu, perkataanya seperti mengetahui apa yang ada dipikiran, tidak berpikir lama kugerakan langkah kumenuju pak tua. Rasa penasaran itu memancingku untuk datang kearahnya, kemudian laki-laki tua itu melanjutkan ucapanya,

“kamu ini, umpan dikasi..! alat pancing dikasi…!, masih saja tidak menerima dengan ikhlas”. Ujar pak tua

 “makanya kalau melakukan sesuatu jangan memakai kemauanmu”. Lanjut pak tua menjelaskan kata-katanya.

“itu sama saja memakai nafsumu, sesuatu yang dimulai dengan nafsu pasti tidak akan memuaskanmu”.

“biasa-biasa aja kalo untuk dunia, karena kamu tidak mati besok, yang kamu harus lakukan dengan cepat itu bertemu dengan tuhanmu, bukan mahluknya”.

Aku terdiam, dengan rasa bingung, akhirnya ada  sedikir rasa keberani untuk bertanya, “Apa maksud perkataan pak tua, saya tidak paham sama sekali maksudnya”.

Dengan melihat arah pancinga orang tua itu menjawab, “bagai mana kamu bisa paham, kamu pun tidak bisa melihat ikan didalam air”.

Aku semakin terdiam,

“sudah jangan melamun”. Ucap pak tua sambil melihat kearahku

“ayo mulai pasang umpanmu”. Dengan memberi contoh pak tua menjelaskan pada ku cara memancing dengan umpan yang ia bawa.

“yang tadi kamu bawa”. Pak tua seakan meminta umpan pancing yang aku bawa.

 “Lemparkan umpannya kemana kamu yakin didalamnya ada ikan”. Dengan kuat tanganya mengayunkan gagang pancing, kemudian bandul umpan pun terlempar ketengah sungai.

Suasana disekitar sungai begitu tenang, udara yang sejuk menghampiri tepian sungai, wewangian mulai tercium rasanya wewangian ini tidak pernah kutemui bahkan wanginya tidak mau menghilang dari tempat ini, yang terpikir olehku tidak mungkin orang tua ini memakai wewangian, pakaianya saja terlihat lusuh apalagi melihat topi yang terbuat dari anyaman, ucap dalam hatiku terus berkelana, tanpa terlalu peduli dengan pancing yang ada ditangan, tiba-tiba pak tua itu memulai pembicaraan kembali.

“he…”. Dengan tepukan dibahuku, pak tua itu melanjutkan perkatannya,

“kamu itu mau mancing atau mau melamun, mau melamun jangan disini lebih baik dipondokmu sanah”. Ujarnya dengan sedikit meninggikan nada bicara.

Aku menolehkan dengan wajah penasaran. Lalu pa tua mengucapkan kata-katanya lagi “Kalau memancing dengan caramu itu, sampai kau tua gak akan mendapatkan ikan”. Jelasnya dengan sedikit mencibir.

Kemudian aku menjawab dengan sepontan

“loh masa begitu pak tua”. Wajahku tertuju kearah pak tua dengan penuh heran, dia pun melanjutkan perkataannya.

“Ilmu memancing itu mudah, itupun jika kamu ingin tau”. terdiam sesaat

“Yang harus kamu lakukan adalah memberikan hatimu pada mata kail itu, melihatnya bukan dengan kedua bola matamu”. Jelasnya kemudian

“Mana mungkin matamu bisa meliat ikan didalam air keruh”. lanjut pak tua.

“Kalau kamu mau melihat ikan dengan kedua matamu, maka  kamu harus menjernihkan air sungai ini”. dengan sedikit serius pak tua menjelaskan ucapanya.

 Dengan gaya tak terima diledek, aku pun semakin penasaran dan mulai mengajukan pertanyaan,

“pa tua”. Aku mulai pertanyaan,

“Apa mungkin air sungai bisa kita bersihkan..?”. Dengan tawa sedikit meledek pak tua pun menjawab

“Kamu itu lucu”.  Dengan tawa kecilnya pak tua berujar.

“Apa yang tidak mungkin didunia Ini dengan Kehendak-Nya”. Lanjutnya menjelaskan maksud perkataannya.

“Jika pemilik mahluk sudah berkehendak, lah jangankan sungai yang bisa diliat, hatimu saja bisa dibersihkan dari nafsumu”. Lanjutnya menjelaskan.

“Makanya kamu tak paham apa yang diajarkan gurumu itu”, dengan menepuk-nepuk bahuku pak tua menjelaskan.

 “Kamu belajar bukan dengan hati tapi dengan keinginan nafsumu”. Jelasnya melanjutkan kata-katanya.

“Mana mungkin akan mendapatkan ilmu yang barokah, jika belajarmu seperti itu”. Semakin lama rasa ingin tauku dengan kata-kata pa tua ini semakin besar, kemudian kuajukan pertanyaan,

“kenapa demikian pa tua”. Tanyaku dengan rasa penasaran,

“begini kamu datang ketempat menuntut ilmu dengan ridho orang tuamu pada kiyai, jadi hati orang tuamu ada pada kiyaimu itu”. Pak tua menjawab.

“Tapi hatimu tak sedikit pun memberi ruang untuknya”. Kemudian aku terdiam tanpa tanya, pikiranku mencoba mencerna setiap kata yang dilontarkan pa tua itu.

 “Coba kamu pikirkan apa mungkin kamu paham dengan apa yang disampaikan kiyaimu”. Lanjut pak tua, dengan nada yang mulai pelan pa tua melanjutkan kata-katanya.

Aku tidak begitu saja menerima kata-katanya, sagahan mulai aku lontarka, “Saya tidak pernah belajar pa tua”.

“Kerjaku hanya menyiapkan kopi”. Dengan sedikit malu kujelaskan kegiatan sehari-hari kegiatan dipesantren.

“membersikan pendopo juga halaman pondok”. Lanjut penjelasanku

 “Kemudian jika pa kiyai keluar pondok saya mengantarnya”. Sambil melihat kearah muka pak tua, pandanganku terasa sedikit malu tergambar.

 “Disana saya cuma menjaga sandal”.Dengan nada malu aku menjelaskan, Pak Tua dengan cepat menjawab ceritaku,

“Ini yang aku maksud, kamu tidak pernah belajar dengan menempatkannya dihati”. Jelasnya kemudian

“Hatimu terlalu kotor sehingga tidak dapat melihat setiap ilmu yang diberikan oleh kiyamu”, Melanjutkan penjelasanya pak tua begitu berhati-hati menyampaikan pendapatnya kepadaku.

“yang kamu liat hanya wujud”, Lanjutnya

“Sedangkan kiyaimu mengajarimu lebih dari itu”, Sedikit terdiam kemudian melanjutkan kembali apa yang pak tua jelaskan.

“Cuma kamu belum menyadarinya”. Matanya menuju kearahku dengan penuh ketulusan menjelaskan maksudnya.

Aku mulai mengerti apa yang dikatakan pa tua, hatiku terlalu banyak menumpuk keluh kesah, sehingga tidak bisa melihat apa yang disampaikanya. Terpikir olehku betapa besarnya salah ini, tidak bisa meliat begitu besar curahan ilmu pak kiyai berikan,

 “aku harus memohon maaf”.Tegasku dalam hati.

Tanpa kusadari pak tua pun sudah berada jauh dari tempat memancing, ia berjalan terasa begitu cepat, ia melontarkan sebuah kalimat dari kejauhan terdengar sangat pelan, “Nanti kita mancing lagi, jangan lupa bawa alat pancing dan umpanmu sendiri”. Teriakan kata-katanya memintaku untuk kembali menemaninya memancing.

Aku tersenyum, kemudian beranjak dari bebatuan untuk bersegera pulang, waktu shalat jum’at akan segera tiba, dengan langkah cepat, kaki menerjang rimbunnya jalan setapak dengan pepohonan dikanan kiri, tak tau mengapa rasanya perjalanan terasa begitu ringan, langkah-langkah  terasa sangat cepat menapaki perjalanan berbatu juga licin namun tidak terasa lelah. Mungkin karena beban ini terangkat sebagian dariku, terasa langkah terhenti ditepian gerbang pondok, terlihat pak kiyai sedang berdiri menghadap kearahku, dengan wajah yang begitu damai serasa memanggilku untuk menghampirinya.

“Assalamualaikum warohmatulohi wabarokatu”. Ucapku dengan langka menghampiri, Kemudian tanganku meraih dan mencium tanganya, kemudian terdengar perkataan beliau,

“Apa Kamu dapat ikannya”. Ucap pak kiyai

Aku terdiam, hanya goyangan kepala yang dapatku gerakan, kemudian pak kiyai melanjukan kalimatnya,

“Apa yang kamu dapat disungai”, Lanjut pak kiyai bertanya.

“Tidak mungkin berangkat semenjak selesai shalat subuh”. Dengan mengeleng-gelengkan kepala seakan menggambarkan ketidak percaan.

“tidak ada yang kau bawa”. Jelasnya melanjutkan kalimatnya.

 “Apa tidak ada satu ikan pun yang mau menyantap Umpanmu”. Serasa menghentak hati perkataannya terdengar.

Kalimat itu serasa tamparan keras  kepadaku, rasanya inilah gambaran diri ini setelah dua tahun tinggal dipondok tapi tidak paham apa yang telah di ajarkannya.Aku terdiam, seakan mengjelaskan rasa salah dihadapan pak kiyai, begitu tidak mengertinya diri ini mempelajari kebaikan-kebaikan yang disampaikan.

Kemudian pak kiyai melanjutkan perkataan berikutnya,

“Aku harap kau mendapatkan yang lebih bermanpaat dari sekedar ikan yang hanya menghentikan laparnya nafsu jasmanimu”.Terangnya,

”Setidaknya apa yang kau dapatkan pagi ini menjadikanmu lebih Bersabar dan hatimu menjadi sebersih kristal, yang akan memantulkan cahaya ilmu untuk orang-orang sekitar”. Kata-kata pak kiyai yang lembut menjelaskan semuanya sehingga lebih mudah aku pahami.

“itu semua tiga jawaban atas pertanyaanmu”, Dengan tangan yang memegang pundaku pa kiyai melanjutkan ucapanya.

“Kenapa aku tidak mengijinkanmu mempelajari kitab-kitab dipondok ini…?”. Tanyanya kepadaku.

”karena aku ingin kau bersihkan hatimu terlebih dahulu sebelum ilmu itu kau pelajari”. Kemudian terhenti sejenak penjelasanya.

“Kemudian setiap hari kamu melayani keperluanku”. Lanjut pak kiyai menasehatiku.

“aku ingin kau menempatkan aku dihatimu dan kaupun ada dihati aku”. kata-kata itu serasa penuh kasih sayang dalam setiap kalimatnya.

Dengan rasa sedih, aku meneteskan air mata, serasa teramat besar bersalahku perbuat, selama ini tidak memahami maksud yang begitu besar curahan ilmu dan cintanya kepadaku, tersimpuh tubuh dihadapan pak kiyai, kucium kaki beliau dengan rasa bersalah, pak kiyai meneruskan perkatannya,

 “Sudah jangan berlebihan dalam rasa bersalahmu”.

“itu semua adalah kehendak ALLAH SWT”.

“jadikansebagai pelajaran hidupmu untuk membersihkan jiwa”. Dalam tangis, pak kiyai menambahkan jawabannya.

Tapi pertanyaan-pertanyaan itu belum aku belum pernah menyampaikannya, tapi bagai man pak kiyai bisa tau semua pertanyaan yang aku tulis, ditambah penjelasanya seakan tau kejadian-kejadian disungai tadi, antara aku dengan pak tua.

 “Jangan pernah melandaskan pencarian ilmu agama dengan sebab akibat”. Dengan nada yang lembut pa kiyai menyampaikan penjelasaanya.

“Karena itu tidak menjadikan ilmu yang berkah”, Lanjutnya

“Datanglah dari kepasrahan atas ketidak tauan dan ketidak berdayaanmu dihadapan sang pemilik ilmu”. Lanjutnya setelah terdiam sejenak,

“Jika kamu berpikir kitab-kitab itu menjadikanmu paham itu kesalahan besar”,

 “mungkin kesesatan yang akan kamu dapatkan karena tidak adanya bimbingan dan keridoan dari ilmu yang kamu pelajari”,Sambung pak kiyai menjelaskan.

“karena ilmu bukan kau cari hanya Pada kitab-kitab, tapi kamu harus mempelajarinya sepanjang hayatmu”,

“Jika kau anggap ilmu telah dicukupkan dengan tumpukan kitab-kitab yang kau pelajari, sebetulnya kamu sudah tersesat dalam perjalanan hidupmu”.

Dengan memegang tanganku mengajak berjalan menuju pondok tempat aku tinggal, pak kiyai melanjutkan perkatataanya, “Apa sumber ilmu tertinggi dalam hidup ini, pasti kamu akan menjawab Al Quran”. Tandasnya

“Yah…itu jawabanya”. Dengan nada penekanan dalam kata-katanya pa kiyai melanjutkan pembicaraannya.

“Tapi Al Quran tidak terhenti dengan arti-arti dalam kitab yang kamu pelajari”,

“Jika Kamu memahaminya dengan sebaliknya”.

“maka kamu akan mendapatkan kesombongan dalam berilmu”, lanjutnya.

“Jangan pernah kau akhiri dan cukupkan pencarian ilmu itu pada kitab-kitab saja”.

“Dan jangan memulai dengan nafsu didada”. Dengan anggukan kepala kucoba menjawab apa yang disampaikan pak kiyai,

“Semoga ikan yang kau dapatkan hari ini akan bermanpaat sampai akhir hayatmu pencaraian sang pemilik ilmu”. Tandasnya kemudian

 “Aku harap kamu bisa memahaminya dengan baik”.

“Aku akan memberikan  jawaba dari tiga pertanyaanmu di jum’at depan”,

“Sekarang kau bersihkan tubuhmu, sebentar lagi akan masuk waktu shalat”.

Dengan sedikit membungkukan kepalaku akupun menjawab,

“ya…. pak kiyai”. Beliau berlalu dari hadapanku.

Dengan sigap langkahku mengarah ke pondok untuk membersihkan bandan, tidak terasa sudah terdengar solawat yang dilantunkan santri dimesjid tanda segera dimulainya pengajian sebelum shalat jum’at. Rasa hati membawa semangat untuk mengikuti pengajian, dengan harapan hatiku dapa menangkap setiap ilmu yang disampaikan pak kiyai dengan baik, setidaknya lebih baik dari hari kemarin.

Hari-hari tidak terasa telah berlalu cepat, terlewati dengan gelap gulita dikamar, terdiam dalam lamunan membawa diri ke pencarian semua yang telah terjadi dihari kemarin, Kebingungan semalam masi tersisa diraut muka, menjadikan langkah serasa sedikit tergangu, banyak harapan dalam dada setidaknya telah sedikit terjawab, sehingga memperingan hariku sekarang. Di tiap-tiap hariku hanya gelap dan segelas kopi yang selalu menemani dikamar, setidaknya membatu dalam menata kembali tujuan keberadaanku disini, agar hati lebih mudah lagi menerima semua yang telah aku jalani.

Malam terasa panjang untuk menerima jawaban-jawaban berikutnya, terdiam duduk ditepian teras mesjid menjadi kebiasaanku setelah mengikuti shalat isa, kegiatan ini selalu kulakukan disela kekosongan kegiatan mengantar pak kiyai berdakwah diluar pesantren. Tidak lupa ditemani segelas kopi hitam panas disamping menambah semakin nyaman berlama-lama duduk sambil membayangkan jawaban apa yang akan diterima esok hari.

Terdengar dari arah gerbang suara pintu didorong, tidak lama muncul sesosok pak tua membawa gerobak air, dengan sedikit terlihat lelah lalu Pak tua itu berkata,

”hi….apa saya boleh sholat disini”. Dengan sedikit terkaget-kaget aku menjawab,

“oh silahkan ….pak”. Kemudian pak tua pun berjalan kearah tempat berwudu.

 Aku meneruskan duduk dan meminum kopi sambil kupandangi gerobak tua disamping, serasa aneh pikirku, apa mungkin malam-malam seperti ini ada ibu-ibu yang membutuhkan air, tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang,

”Mungkin saja…”. dengan segenap tenaga aku balikan tubuh menuju arah suara itu.

Seperti kamu ini contohnya”. Ujar pak tua.

 Dengan langkah kecilnya menuju kearahku.

“Air itu adalah kehidupan pasti ada yang membutuhkan”. Ujarnya

 “kamu diciptakan dari air yang menjadi segumpal darah”. Tandasnya dengan tangannya yang menyentuh bahu.

Sedikit rasa bingung aku menggeserkan arah duduk sehingga dapat dengan jelas menghadap ke arah pak tua, penuh tanda tanya tergambar diraut muka mencoba menyanyakan apa maksudnya.

”Saya tidak paham maksud pak tua”. Sambil memindahkan posisi segelas kopi di hadapan.

“Bagaimana kamu paham”. Ujarnya

 “yang kamu lihat saja tidak kamu mengerti apalagi yang Cuma bisa kamu bayangkan”. Pak tua menimpali pertanyaanku.

“Coba kamu lihat gerobak tua itu” jari pak tua menunjuk kearah gerobak.

Kemudian pak tua melanjutkan penjelasan yang dimaksudnya.

Berapa banyak air yang dapat dibawanya”. Kebingunganku makin bertambah apa hubunganya air, kehidupan, dan gerobak pengangkut air.

eh…malah melamun”.Tegur pak tua

air adalah lambang kehidupan”.

“Gerobak itu melambangkan isi kepalamu yang pusing memikirkan kapan akan mempelajari kitab-kitab dipesantren”. Tawa kecil pak tua mengiringi klimatnya.

Apa kamu tau air itu tidak pernah mengeluh dengan keadaanya”. Lanjutnya.

“mulai dari jatuh dari langit”.Dengan gerakan tangan mengibaskan topi anyaman kearah badannya.  

“kemudian mengalir kesungai-sungai”. Terhenti sejenak

 “Ditengah perjalanan mengalami begitu banyak dan beratnya perjalanannya kelaut”, Terhenti kembali penjelasan pak tua.

“Mulai dari sampah, kotoran manusia, bahan kimia dan masih banyak yang lainya”. Dengan seksam menjelaskan pak tua.

“apa air..? protes terus demo kan tidak..!”. Ujarnya.

“Tetap saja air mengalir terus ke laut”. Sambil tertawa

“kemudian air menjadi berubah sudah tak layak lagi diminum”,

“Tapi apa itu sudah selesai ..?”. Dengan sesekali penjelasannya serasa menanyakan kepadaku.

“Setelah sampai dilaut, apa sudah selesai….?”. Tanyanya padaku, namun tak ada jawaban yang dapat aku ucapkan.

 “Itu semua belum berakhir..!” Lanjutnya berkata.

“Air masih harus dipanas matahari menjadi uap agar menjadi awan dan kembali lagi kedaratan”. Dengan begitu jelas pak tua katakan padaku, seakan ingin menegaskan penjelasannya.

“ itulah pelajaran untuk manusia yang bisa dipelajari dari perjalannan air”. Dengan keyakinan penuh pak tua mencoba menegaskannya padaku.

Pak tua itu mengambil handuk kecilnya kemudian di bersihkan muka yang masi terdapat tetesan air sisa air wudu, setelah menjelaskan begitu panjang lebar. Aku yang tetap kebingungan bertambah bingung dengan penjelasanya, mengapa pak tua itu seakan tau segala yang dia lihat dan tak terlihat olehny,

“Siapa pak tua ini”. Pikirku dalam hati.

Sudah tidak perlu pusing kamu pikirkan”. Dengan cepat pak tua itu berkata, seakan ia menjawab apa yang aku pikirkan.

“Aku datang dari mana kenapa kesiani itu diluar pengetahuanmu” Jelasnya padaku.

“Semua sudah ada yang mengaturnya”,

“tugasmu laksanakan dan berdo’a supayah kau mampu menjalaninya”. Lanjut pak tua menjelaskan

“Semua sudah ada bagianya”.

“Sekarang yang harus kamu lakukan sebaik-baiknya adalah membahagiakan orang tua mu dan melalui mengabdi pada gurumu” Jelasnya dengan menepuk pundakku.

“Dengan seperti itu kamu akan menemukan dirimu dan ilmu yang akan kamu pakai dikemudian”. pak tua melanjutkanpenjelasannya padaku.

Namun aku masih heran dengan penuh tanda tanya, rasanya aku pernah bertemu dengan pak tua ini, semua kata, dan jawaban-jawabanya memiliki nada yang sama dengan orang yang sama aku temui tempo hari, tapi kapan dan dimana itu semua aku lupa.

Serasa ragu aku coba beranikan untuk bertanya pada pak tua,

“Apa kita pernah bertemu..?”. Tanyaku.

“Sering..!”. Jawab pak tua ringan.

“Kapan dan dimana..?”. Lanjut ku bertanya.

“Disini dan disaat kau curahkan semua harapanmu pada gurumu”. Jelasnya

Aku semakin bingung dibuatnya, entah lah apa yang dimaksud pak tua itu tidak aku mengerti, semua jawabanya menambah kekacauan dalam otaku.

Aku melanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.

“Apa pak tua tinggal disekitar sini..?”. Tanyaku

“ Ya …tidak jauh dari sini dari tempat kita duduk”. Jawabnya

Jika berkena boleh kah saya mampir ke rumah pak tua..?”. Tanyaku

“Dengan senag hati”. Jawabnya dengan singkat.

Malam semakin larut, tidak terasa perbincangan aku dengan pak tua itu sudah banyak diperbincangkan, namun kenapa setiap pertanyaan dariku selalu saja ada jawabannya, seakan begitu tepat dan memuaskan diri, tak sedikit dari pertanyaan maupun sanggahan terlontar dari mulut begitu mudahnya pak tua patahkan dan dijawabya.

“Sudah, sekarang kamu respi apa yang telah aku sampaikan”. Ujarnya.

untuk malam ini aku rasa itu semua sudah sudah cukup”. Ucap pak tua menyudahi percakapanya.

“Simpan 4 pertanyaan mu itu untuk hari esok”. Lanjutnya dengan begitu jelas mengucapkan kalimat itu seakan dia tau semua pertanyaan yang ada.

“Enam pertanyaan saja kamu sulit untuk memahaminya” Jelasnya pak tua.

“Jangan kamu pikirkan kapan dan bagai mana sisa jawaban yang lain”. Kalimat itu diucapkan pak tua dengan mulai bergegas bangun dan segera pergi dari tempat kami berbincang-bincang.

“Aku sangat menunggu suasana seperti ini lagi”. Lanjutnya dengan tersenyum.

“Semoga kita bertemu lagi…ya…!”. Dengan berlalu mendorong gerobak pak tua menyampaikan kata-katanya.

Aku tetap terdiam dalam dudu, sesekali kuambil gelas kopi yang ada didepan untuk menyela nalaru merekam dan menghayati apa-apa saja yang pak tua tadi katakan, jika dipikir dengan seksam semua yang disampaikanya merupakan jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang telah aku siapkan diselembar kertas. Dengan rasa yang tak yakin tangan ku mulai mengambil secarik kertas tersimpan di kantung saku disebelah kiri baju koko yang kukenaka, kemudian lipatannya aku buka, terlihat tulisan-tulisan itu masih jelas dengan tinta hitam menyusun dari satu hingga sepuluh pertanyaan. Aku memperhatikan detail tulisan, dan membacanya berulang-ulang, agar aku lebih memahaminya lagi dengan baik, apa-apa yang dimaksud pak tua itu.  

Langkah menuju kamar menyudahi duduk-duduk santai, dengan langkah kecil kupakai sandal kayu kemudian melangkahkan kaki ini dengan pasti, dinginnya angin malam menambah cepat langkah yang aku ayunkan, tidak terasa pintu kecil dari papan tua sudah ada dihadapan, aku dorong dengan perlahan kemudian terlihat pembaringan yang terasa hangat setelah diterpa angin malam, namun mata ini belum bisa dipejamkan untuk tidur, Segelas kopi masi setia menemani dikamar, sesekali kopi aku ambil dan meminumnya kembali, sehingga konsentrasi ini kembali datang padaku.

Aku mulai membaca kembali pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam kertas, kumulai dengan pertanyaan pertama, serasa jawaban itu telah kuterima dari saat bertemu pak tua disungai, kenapa setiap keperluan pak kiyai harus aku yang menyiapkanya, dan pak tua itu memberi tahu dengan contoh umpan pada pancingnya.

Kemudian pertanyan yang kedua, pak tua itu memberi jawaban dengan mencontoh seperti cara memancing yang baik, yang berarti memulai sesuatu tanpa adanya keridoan guru didalamnya, maka akan serasa sia-sia dan banyak ketidak baikanya yang aku dapatkan. Begitu pula dengan pertanyaan ku yang ketiga, dalam memulai bukan berawal dari pandai dan tidak pandai tapi bagaimana memulai dengan keyakinan ilmu sebagai wasilah kebaikan bukan ladang nafsu keinginan semata, seperti keingin terlihat pandai atau ahli, padahal bukan itu hakikat berilmu.

Ketiga pertanyaan itu dengan sangat jelas pak tua jelaskan padaku, namun yang menjadi pertanyaanku kini siapa pak tua yang kutemui disungai, dan apa hubunganya dengan pak kiyai sehingga sangant pas waktu aku membutuhkan jawaban-jawaban itu. Pak kiyai memintaku kesuangai untuk memancing dan denga tepat pula ada pak tua disana, apa itu sesuatu kebetulan perbincangan kami serasa menjelaskan semua pertanyaan itu tanpa mengetahui kegundahanku dalam hati.

Mungkin kebetulan semata”. Pikirku seakan berulang-ulang

Aku tidak bisa menjelaskanya semua kejadian ini. Sekarang ditambah dengan pak tua penjual air yang tiba-tiba muncul dari luar pondok dan memulai perbincang denganku juga menjelaskan apa yang menjadi pertanyaan-pertanyaan berikutnya,

“apa mungkin ini semu kebetulan juga”, Pikirku lagi.

Jika aku coba ingat pak tua itu bilang bahwa air adalah awal dari kehidupan, dan kita bisa belajar dari air, Dia menunjukan berapa besa air yang dapat dimuat oleh sebuah gentong pada gerobaknya, maka itu contoh isi kepalaku, apa ini yang dimaksud dengan pertanyaanku, apa aku tidak sanggup mempelajari ilmu disini, lalu apa hubunganya tong air itu dengan isi kepala ini.

 Bila dipikirkan lagi dalam gerobah ada enam buah tong air setiap tong berisi sesuai volume tong itu jadi apa maksud pak tua itu bahwa setiap orang telah diciptakan dengan ukuranya masing-masing akan kemampuannya. Lanjut pak tua dengan ceritanya ia menjelaskan bahwa kita harus belajar pada air, bagaimana air memulai perjalanannya dimulai dari langit, mengalir disungai-sangai kemudian mengalami berbagai masalah dalam perjalanna dan kembali lagi ke lautan untuk memulai kehidupan selanjutnya, apa ini jawaban pertanyaanku yang aku buat pada pertanyaan  nomer lima dan enam, semoga apa yang ku pahami ini tidak jauh berbeda dengan apa yang disampaikan oleh pak tua itu.

Kembali lagi dengan pertanyaan,

“siapa pak tua…”. Itu dan dari manakah dia.

Masalahnya aku lupa menanyakan alamat, kenapa pak tua itu muncul kalau aku sedang kebingungan memikirkan jawaban-jawaba dari pertanya ini, kemudian dia datang disaat aku sendiri, apa maksud dari semua ini semoga tidak ada yang salah dari ini semua. Apa pak tua adalah orang yang sama dengan yang aku temui disungai, dari cara bertutur kata keduanya mirip dan dia seakan-akan mengetahui apa yang sedang aku pikirkan. Tidak terasa mata mulai takuat lagi menahan beratnya rasa mengantuk yang datang, aku bergegas meninggalkan teras untuk menuju temapat istirahat.

Pagi hari tiba suara adzan memanggil, telah selesai membersihkan badan secepatnya menuju mesjid, taklupa sandal kayu yang selalu menemaniku menuju mesjid, disana sudah banyak anak santri yang siap-siap melaksanakan shalat subuh berjamaah, kebiasaan aku yang tidak pernah lepas ialah duduk dipojik sebelah pintu masuk, maklum santri senior harus menjaga adek-adeknya agar tidak bercanda ketika mengadakan pengajian pagi.

Beberapa batang kayu bakar aku ambil dari belakang, kemudian mulai api dinyalakan, tempat masak air aku mengambilnya dari rak. Tidak terasa air sudah masak, racikan kopi hitam sudah siap diatas gelas, segera air dituangkan aku mengaduknya terasa uap air dan harumnya kopi tercium begitu jelas, tidak lama aku bergegas mengantarkan kopi ke meja biasa tempat duduk pak kiyai, tergopoh-gopoh hantaran kopi itu aku bawa agar tidak telat.

Pintu dari kayu jati tua itu aku dorong, terlihat pak kiyai sudah duduk disamping meja itu, aku berjalan dengan membungkukan badan menghampiri pak kiyai yang memperhatikan tanpa sepatah kata yang keluar. Setelah selesai kusimpan kopi diatas meja, pak kiyai pun mengambil segelas kopi, lalu meminumnya sedikit demi sedikit, aku tetap duduk terdiam dilantai dengan rasa bersalah wajah ini tertunduk serasa tidak kuat menatap wajah pak kiyai. Tidak lama terdengan suara gelas disimpan diatas meja, pak kiyai memulai pembicaraan,

Emangnya kamu berbincang- bincang sama siapah semalam..?”. Ucap pak kiyai

Namun aku tetap terdiam, tidak berani rasanya mengeluarkan sepatah katapun untuk menjawab ucapan pak kiyai.

“Siap yang kamu temui diteras mesjid semalam..?”. Lanjutnya bertanya.

Aku coba beranikan menjawab pertanyaan pak kiyai, serasa tidak baik bila itu tidak segera diberikan jawaban.

oh ….itu pak kiyai” Ujarku menjawab dengan terbata-bata

Semalam ada bapak-bapak tua mampir dimesjid untuk melaksanakan sholat”. Jelasku terhenti

“Dia seorang pedagang air keliling”. Jelasku pada pak kiyai.

tapi ada sedikit rasa tanya saya pada bapak penjual air itu”,

“kenapa ia berjualan hingga larut malam dan itu yang membuat saya tidak mengerti pak kiyai”  Lanjut penjelasan aku.

Wajah pak kiyai memandang ke arah luar pintu serasa sedang memikirkan sesuatu yang begitu penting, tatapanya serasa jelas menerawang jauh kedepan halaman rumah, kemudian terucap sebuah kata dari pak kiyai.

Aku tau apa yang kalian bicarakan semalam”.  Ujar pak kiyai dengan tenang

Besar harapanku, kamu dapat memahami semua percakapan-percakapan semalam”. Lanjut pak kiyai menjelaskan pembicaraanya, dengan sesekali ia meminum kopi kemudian melanjutkan penjelasanya.

 “Apa yang kamu bincangkan semalam adalah semua penjelasan yang akan kamu tanyakan padaku”. Ucap pak kiyai pada tentang peristiwa semalam yang terjadi.

Semoga penjelasan itu memuaskan dan dapat menjawab apa yang menjadi kegundahanmu selama ini”. Lanjut pak kiyai.

dan itu menjadikan dirimu semakin berisi dengan niat yang tulus untuk mencari ilmu” Setelah menjelaskan itu pak kiyai bergegas bangun, dan mulai meninggalkan tempat kami berbincang.

“kamu segera bersikan pendopo dan mesjid, aku liat debu dan sisa sampah adik-adik mu banyak berserakan”. Pinta pakiyai dengan langkah kecilnya membelah kegelapan didalam rumah.

              Langkah kecil dengan badan terbungkuk, aku mulai keluar dengan membawa segelas kopi, pada sebuah teras gelas itu diletakan, terlihat segenggam sapulidi dipojokan tiang pendopo, dengan cepat aku mengambilnya lalu mulai aku membersihkan debu-debu dilantai, tidak berapa lama pekerjaan itu telah selesai dikerjakan, mulai langkah ini tertuju ke mesjid yang ada disebelah kiri pendopo, terlihat banyak kertas dan alat-alat shalat juga kitab-kitab yang tidak tersimpan dengan baik, satu persatu aku bereskan.

   Tidak terasa usai juga pekerjaan ini, kulihat jam didinding sudah menunjukan jam sepuluh tiga pulu, aku harus bergegas membersihkan tubuh untuk segera kembali kemesjid menjalankan shalat jum’at, dengan tergopoh-gopoh aku melangkahkan kaki ke kamar mengambil handuk dan peralatan mandi, pikirku jika aku telat maka antrian akan terasa panjang disana. Tidak lama kemudian aku lihat antrian dikamar mandi sudah memanjang, terpaksa menunggu  aku lakukan.

Dua minggu ini rasanya hidup ini penuh dengan keanehan, mulai dari diminta membuat pertanyaan, bertemu dengan pak tua pemancing kemudian bertemu dengan pedagang air keliling, entah apa maksud semua ini, belum dengan mimpi-mimpiku yang tidak dimengerti. Kemarin aku mencoba untuk keluar pondok, dengan alasan menghilangkan penat juga mencari suasana lain disekeliling pondok, tapi itu baru aku bisa lakukan hari kemis ini, begitu banyak ya kegiatan pondok yang harus aku kerjakan sehingga tidak memungkinkan untuk keluar.

Dengan sedikit berpakaian tidak biasa dipondok, kupakai celana jeans dengan kaus putih lengan panjang. Langkah demi langkah mulai ditapaki, entah kemana arah tujuan aku pun tidak tau, yang terpikir adalah menghilangkan penat yang ada, tak terasa langkah terhenti ditepian pasar, terlihat banyak orang berlalulalang dikanan kiri jalan dengan kesibukan mereka masing-masing. Teringat dengan uang yang tersimpan disaku celana, rasanya enak jika sejenak menghilangkan dahaga, dengan langkah pasti kucari pedagang minuman disekitar pasar, tapi aku belum menemukan satu pun pedagang yang aku maksud.

Sedikit putus asa dengan pencarianku, terlintas sebuah tanyaan,

“apa mungkin pasar seluas ini tidak ada satu pun pedagany minuman”. Berat hati segera menghentikan langkah, terlihat ada kursi tua dideretan gerobak kosong ditepi jalan yang sedang aku telusuri, tidak berpikir panjang segera duduk kursi, terlihat kerumunan orang yang sibuk dengan kegiatanya masing-masing. Rasa lelah juga haus yang mendera menghilangkan keramayan dari mata, semua terasa lelah yang ada pada nalar.

Tidak lama datang seorang pak tua duduk disamping, lalu ia bertanya,

Kenapa kamu terlihat sangat lelah..?” Ucapnya

Tidak ada jawaban dapat aku lontarkan, hanya raut muka dapat aku tolehkan pada pak tua yang duduk disamping kananku, dengan nada mencibir pak tua berkata,

kamu ini masi muda sudah gampang menyerah”. Lanjutnya mengomentari wajahku yang penuh rasa lelah.

Bagaiman kamu bisa menemukan jawaban mimpi-mimpimu”. Tegas pak tua kepadaku.

Serasa disambar petir disiang hari, rasa lelah yang ada hilang begitu cepatnya setelah mendengar ucapan pak tua, entah apa yang kurasakan bukan lagi rasa lelah tapi rasa kaget bercampur ketidak percayaan atas ucapan pak tua. Dengan muka tegang dan kosong pandanganku mengarah pada pak tua. Serasa ingin segera tau apa maksud pak tua denga apa yang telah ia sampaikan, pembicaraan pun terlontar dari mulut,

“Apa yang pak tua maksudkan..?”. Tanyaku dengan polos.

Pak tua itu tidak langsung menjawab pertanyaanku, dengan handuk dilehernya pak tua membersikan keringat yang terlihat dimukanya, kedua tanganya menekan handuk pada bagian muka, serasa lelah yang teramat itu pun hilang setelah pak tua membersihkan bagian mukanya. Mulai pak tua itu mencoba memberikan jawaban yang aku tanyaka,

“Apa yang kau tanyakan, adalah kasih sayang gurumu”. Jelasnya tanpa ku mengerti maksud dari penjelasan itu.

“Coba kamu ingat-ingat kembali apa yan terjadi pada semua mimpimu”. Lanjutnya menjelaskan.

“Itu semua adalah cara gurumu mengajari ilmu-ilmu yang para santri pelajari dipondok”. Jelasnya.

“Tapi kamu ingat air itu mengisi sesuai dengan kebutuhan tempatnya”. Mendengar penjelasan pak tua seperti yang ia ucapakan, aku merasa kaget dan banyak pertanyan muncul dalam diriku, namun pak tua itu sekali lagi meredam semu pertanyaan itu dengan mengatakan,

Sudah jangan kamu terlalu pusing dariman aku mengetahui semua itu”,

“sekarang kamu harus merangkai semua menjadi cara kamu untuk mempelajari apa-apa yang diberikan gurumu”. Terangnya

“setiap orang tidak sama dan memiliki keistimewaan masing-masing yang diberikan sang penciptanya”.  Lanjut pak kiyai menjelaskan semua pembicaraanya.

Anggukan kepalaku mengiringi penjelasan pak tua, seakan megerti semua ucapan pak tua sampaikan, tidak ada kata juga tanya yang terluncur dari mulut ini, hanya tatapan dan anggukan dapat merespon semua penjelasan pak tua. Riuh pasar seakan tidak mengganggu semua perbincangan kami, teriakan pedagang yang seakan-akan memecahkan genderang telinga tidak terdengar lagi, hanya ucapan pak tua terdengar jelas ditelinga, tidak dapat aku pahami apa yang sedang terjadi semuah ini.

Disela-sela aku berpikir ada satu kalimat yang coba aku tanyakan,

“Maaf pak tua, apa saya boleh tau sebenarnya pak tua itu siapa dan darimana”. Tak terasa tanganku menggaruk seakan mengiringi pertanyaan yang aku lontarkan, apa garukan ini rasa sungkan atau rasa takut bertanya namun tidak terlalu ambil pusing dengan itu semua, tatapan ini aku arahkan pada pak tua. Menanti jawaban pak tua yang begitu terasa amat lama, aku mencoba memperbaiki posisi duduk agar terasa nyaman menghadap ke arah pak tua.

“Kalau kamu ingin tau siapa aku nanti kamu akan tau juga, itu semua tidak perlu aku jelaskan padamu”. Jelasnya

orang tuamu sudah tau apa yang kamu kerjakan, kamu pelajari karena gurumu adalah temanya sewaktu orang tuamu dipondok dia akan sangat bangga dengan apa yang telah kamu pahami dari semua ini”. Lanjut pak tua menambahkan penjelasanya padaku.

Sekarang kamu kembali kepondok disana gurumu sudah menunggu”. Pak tua bergegas berdiri dan menyudahi perkatanya, tidak lama kemudian dia sudah pergi menjauhi tempat kami berbincang, lalu menghilang diantara orang-orang yang berlalulalang dipasar dengan kesibukanya masing-masing.

Duduk diamku belum bisa berakhirnarasi-narasi pikiran dalam otaku terus berjalan merangkai kata demi kata agar mudah dipahami, namun suasan yang tadi terasa sunyi hilang dan kembali terdengar keramaian pasar, aku mencoba berdiri untuk melanjutkan perjalannan kembali kepondok, perjalanan yang semula ringan terasa berat kini, udara segar pun entah kemana, serasa nggan menemaniku dalam perjalannan pulang.

Terlihat sesosok berkain sarung menunggu di depan gerbang, dari kejauhan begitu panik memanggilku,

“Kang…kang….cepat jalanya”. Ujarnya sambil melambaikan tangan.

“pak kiyai menunggu akang dari tadi diteras mesjid”. Lanjutnya menjelaskan padaku.

“Pak kiyai meminta saya untuk menunggu akang disini, katanya akang segera kembali dari pasar”. Lanjut santri muda memberi tahu.

Langkah kecil mulai aku percepat,

“ada apa gerangan yang ingin disampaikan pak kiyai padaku”. Pikirku dalam hati

Mungkin pak kiyai sudah terlalu lama menunggu disana, tak berapa lama aku lihat pak kiyai sedang asik duduk diteras mesjid persis ditempat biasanya aku menghabiskan malam-malam sebelum tidur, terlihat segelas kopi menemaninya, tidak ada satu santripun yang berani menemani beliau,

Dari mana saja kelilingnya..?. Tanya pak kiyai

Aku menjawab dengan rasa sungkan, diiringi langkahku membungkuk mendekati pak kiyai,

“Saya dari pasar …..pak kiyai”. Jelasku.

“Ada apa disana..?”. lanjutnya bertanya.

“Ngga ada apa-apa pak kiyai…hanya melihat orang-orang saja sibuk dengan aktifitasnya masing-masing”. Jawabku dengan rasa sungkan.

“Apa kamu sudah makan”. Ucap pak kiyai dengan menatap kearahku, namun aku tidak berani menjawabpertanyaan itu.

“Jangan terganggu dengan semua kejadian yang menghampirimu, itu semua adalah kehendaknya, orang tuamu sudah menitipkan semua keperluan mu disini, maka setiap yang terjadi padamu adalah tanggung jawabku”. Pak kiyai menjelaskan apa yang ingin dia katakan padaku.

“caraku mendidik ilmu agama pada mu merupakan kekhususan untukmu, karena setiap indipidu adalah mahluk yang unik Tuhan ciptakan” dengan nada yang lembut pak kiyai menyampaikannya padaku.

“Mungkin kamu akan bingung dengan semua mimpi-mimpi yang mendatangimu semenjak kamu datang dipondok ini”. Jelas pak kiyai

itu adalah caraku memberikan kekhususan untukmu diantara santri-santri lain, aku tau kamu adalah anak yang pandai disekolah dan suaramu melantunkan ayat-ayat suci Al-Qurqn begitu hebatnya, namun bukan hanya disitu kamu berilmu seakan itulah tujuan kamu mencari ilmu lalu kau merasa bangga dengan kemampuanmu, maka tujuanmu belajar menjadi keliru”.

Sesekali pak kiyai meminum kopi kemudian melanjutkan pembicaraanya, aku hanya terdiam menunggu dan coba memahami semua nasehat pak kiyai.

“Nanti hari kamis depan aku akan sowan kerumah seseorang, kamu harus ikut ya…!”. Pinta pakiyai padaku.

“Sudah sekarang kamu mandi dan ajak santri-santri ke sini sudah mau shalat ashar”. Ujar pak kiyai.

Aku pun segera pamit dan meninggalkan pak kiyai duduk diteras itu,

“Maaf pak kiyai mohon diri saya mau ke kamar”. ungkap ku pada pak kiyai.

“Oh….Silahkan”. timpal pak kiyai

Langkah kecil dengan membungkuk menghampiri pak kiyai untuk mencium tanganya, kemudian langkahku mulai menjauh dari tempat kamu berbincang mengarah kekamar untuk mengambil handuk dan peralatan mandi.

Baca Juga Tulisan Saya Yang Lainnya :

  •  Mahabbah Cinta Mariam
  • Mengantri
  • Diluar Nalar
  • Darah Biru Yang Membumi

Apa Kata Orang

Cara untuk memulai adalah berhenti bicara dan mulai bekerja.

Walt Disney

Harry, yang menunjukkan jati diri kita adalah pilihan yang kita ambil, jauh melebihi kemampuan yang kita tunjukkan.

J. K. Rowling

Jangan menangisi sesuatu yang telah terjadi, tetapi tersenyumlah karena itu terjadi.

Dr. Seuss

Ayo buat sesuatu bersama.


Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai